PENGOLAHAN DIVERSIVIKASI KOPI
Oleh :
Anang Budi Prasetyo,sp
PPL BPP Kecamatan Tiris
Kabupaten Probolinggo
I.
PENDAHULUAN
Sejak 30 tahun lalu, perkopian dunia kembali
dihadapkan pada masalah kelebihan penawaran, sehingga harga biji kopi di pasar
internasional terpuruk ke titik terendah. Penurunan harga kopi yang terjadi
berkelanjutan tersebut di pasar dunia sangat mempengaruhi perkembangan kopi di
Indonesia, mengingat sekitar 75% produksi kopinya untuk ekspor. Tertekannya
harga kopi dunia, mengakibatkan harga kopi di sentra-sentra kopi domestik
sangat rendah dan bahkan berada dibawah biaya produksi. Kondisi ini menyadarkan
kita bahwa pengembangan industri hilir kopi mempunyai arti startegis untuk
mengantisipasi kejenuhan pasar terhadap biji kopi, meningkatkan nilai tambah
kopi, mengurangi resiko fluktuasi harga biji kopi.
Menurut Drajat (2004) masalah utama dari
lambannya pengembangan industri hilir kopi di Indonesia berturut turut mulai
dari masalah terberat adalah (1) masalah dalam menembus jaringan pasar ekspor
produk hilir kopi; (2) kurangnya keterdiaan sarana dan prasarana; (3) adanya
hambatan dalam peraturan khususnya ketenagakerjaan, perpajakan dan perdagangan;
(4) kurangnya motivasi dari pengusaha; (5) kekurangan modal; (6) teknologi
pengolahan dan pengemasan yang belum dikuasai sepenuhnya; dan (7) kualitas SDM
untuk pemasaran produk hilir yang belum memadai.
Saat ini pasar ekspor kopi olahan makin terbuka,
terutama ke negara-negara yang sedang berkembang. Permasalahan yang dihadapi
Indonesia adalah pengembangan industri pengolahan kopi masih terkendala oleh
image bahwa negara produsen belum mampu menghasilkan produk olahan sesuai
dengan permintaan pasar, disamping ketatnya persaingan pasar produk olahan.
Selain itu karena belum adanya produk kopi olahan yang mampu menarik kesukaan
konsumen. Oleh karena itu diperlukan adanya diversifikasi produk kopi yang
dapat meningkatkan kembali harga jual kopi dan menjadikan kopi menjadi minuman
yang banyak disukai orang dari muda sampai tua, dari kalangan bawah sampai kalangan
atas.
II. PROSES PENGOLAHAN PRIMER BIJI KOPI
Untuk mendapatkan kopi beras perlu ada
pengolahan. Pada pokoknya pengolahan kopi itu hanya ada dua cara yaitu (AAK,
1990):
· Pengolahan kering
· Pengolahan basah
2.1. Metode pengolahan secara kering
Metode pengolahan cara kering banyak dilakukan
mengingat kapasitas olah kecil, mudah dilakukan, peralatan sederhana dan dapat
dilakukan di rumah petani. Tahapan pengolahan kopi cara kering secara urut
yaitu: panen, sortasi buah, pengeringan, pengupasan kopi, sortasi biji kering,
pengemasan dan penyimpanan biji kopi (Sihotang, 2008).
Metode ini sangat sederhana dan sering digunakan
untuk kopi robusta dan juga 90 % kopi arabika di Brazil, buah kopi yang telah
dipanen segera dikeringkan terutama buah yang telah matang. Pengeringan buah
kopi dapat dilakukan dengan dua cara yaitu: pengeringan alami dengan bantuan
sinar matahari dan pengeringan buatan dengan menguunakan mesin pengering
(Ridwansyah, 2003).
2.2. Metode pengolahan secara basah
·
Penerimaan
Hasil panen harus secepat mungkin dipindahkan ke
tempat pemrosesan untuk menghindari pemanasan langsung yang dapat menyebabkan
kerusakan (seperti: perubahan warna buah, buah kopi menjadi busuk) (Ridwansyah,
2003).
·
Pulping
Untuk kopi yang difermentasikan harus dilepas
dari daging buah. Pulping bertujuan memisahkan kopi dari pulp. Yang terdiri
atas daging buah dan kulit buah. Kopi yang baru dipetik haruslah dipulp pada
hari itu juga, ini dilakukan agar lebih mudah dan juga lebih bersih
(Notodimedjo, 1989).
·
Fermentasi
Proses fermentasi bertujuan untuk melepaskan
daging buah berlendir (mucilage) yang masih melekat pada kulit tanduk dan pada
proses pencucian akan mudah terlepas (terpisah) sehingga mempermudah proses
pengeringan. Hidrolisis pektin disebabkan, oleh pektinase yang terdapat di dalam
buah atau reaksinya bisa dipercepat dengan bantuan jasad renik (Ridwansyah,
2003).
·
Pencucian
Pencucian bertujuan menghilangkan sisa lendir
hasil fermentasi yang menempel di kulit tanduk. Untuk kapasitas kecil,
pencucian dikerjakan secara manual di dalam bak atau ember, sedangkan kapasitas
besar perlu dibantu mesin (Sihotang, 2008).
·
Pengeringan
Pengeringan bertujuan mengurangi kandungan air
biji kopi dari 60 – 65 % menjadi maksimum 12,5 %. Pengeringan dilakukan dengan
cara penjemuran, mekanis, dan kombinasi keduanya (Sihotang, 2008).
·
Hulling (Pelepasan kulit tanduk)
Pelepasan biji dan kulit tanduk ada dua cara
yaitu (Notodimedjo, 1989):
1.
Bila hasil kopi tersebut
hanya sedikit, cukup ditumbuk seperti menumbuk padi, cara ini biasanya
dilakukan oleh petani.
2.
Dengan mesin yang
disebut “Huller”, cara ini umumnya dipergunakan oleh
perusahaan/perkebunan besar. Pada mesin Huller ini biji-biji itu
dilepaskan dari kulit tanduk dan kulit ari, dimana biji dan kulit dapat
dipisahkan.
· Sortasi
Sortasi berarti memisah-misahkan kopi beras yang
telah dikupas dari pesawat huller. Hal ini bertujuan untuk mengklasifikasikan
(Notodimedjo, 1989):
·
Besar/kecilnya beras
kopi
·
Warnanya
·
Yang pecah/remuk
·
Yang kena hama bubuk dan
yang kotor.
- Penyimpanan
Buah kopi dapat disimpan dalam bentuk buah kopi
kering atau buah kopi parchment kering yang membutuhkan kondisi penyimpanan
yang sama. Biji kopi KA air 11 % dan RH udara tidak lebih dari 74 %. Pada
kondisi tersebut pertumbuhan jamur (Aspergilus niger, A. oucharaceous, dan
Rhizopus sp) akan minimal. Di Indonesia kopi yang sudah di klasifikasi
mutunya disimpan didalam karung goni dan dijahit zigzag mulutnya dengan tali
goni selanjutnya disimpan didalam gudang penyimpanan (Ridwansyah, 2003).
III. PROSES PENGOLAHAN SEKUNDER BIJI KOPI
Proses pengolahan sekunder ini merupakan proses
lanjutan dari proses pengolahan primer kopi. Dari pengolahan ini menghasilkan
beberapa produk jadi yang siap jual yang mana akan menaikkan harga jual kopi
tersebut. Produk yang dapat dihasilkan adalah:
3.1. Kopi Bubuk
Proses Pengolahan Kopi Bubuk meliputi:
3.1.1. Penyangraian (Roasting)
Kunci dari proses produksi kopi bubuk adalah
penyangraian. Roasting merupakan proses penyangraian biji kopi yang tergantung
pada waktu dan suhu yang ditandai dengan perubahan kimiawi yang signifikan.
Proses sangrai dilakukan di dalam mesin sangrai tipe silinder berputar. Tujuan
penyangraian adalah mensintesakan senyawa-senyawa pembentuk citarasa dan aroma
khas kopi yang ada di dalam biji kopi. Proses penyangraian diawali dengan
penguapan air yang ada di dalam biji kopi dengan memanfaatkan panas yang
tersedia dan kemudian diikuti dengan penguapan senyawa volatile serta proses
pirolisis/pencoklatan biji.
Kesempurnaan penyangraian kopi dipengaruhi oleh
dua faktor utama, yaitu panas dan waktu.Kisaran suhu sangrai yaitu untuk
tingkat sangrai ringan/warna coklat muda suhu 190-1900C, tingkat
sangrai medium/warna coklat agak gelap suhu 200-2250C, dan tingkat
sangrai gelap/warna coklat tua cenderung agak hitam suhu diatas 2050C.
Waktu penyangraian bervariasi dari 7-30 menit tergantung jenis alat dan mutu
kopi.
Sesudah proses penyangraian selesai, biji kopi
dimasukkan ke dalam bak silinder yang dilengkapi dengan kipas pendingin. Proses
ini disebut sebagai tempering untuk mendinginkan biji kopi tersangrai. Selama
pendinginan biji kopi diaduk secara manual agar proses sangrai menjadi rata dan
tidak berlanjut (over roasted) dan warna biji menjadi hitam.
3.1.2. Penghalusan biji kopi sangrai (Pembubukan)
Biji kopi sangrai dihaluskan dengan alat
penghalus (grinder) tipe Burr-mill sampai diperoleh butiran kopi bubuk
dengan kehalusan tertentu. Mekanisme penghalusan terjadi karena adanaya gaya
gesek antara permukaan biji kopi sangrai dengan permukaan piringan dan sesama
biji kopi sangrai. Tingkat kehalusan bubuk kopi ditentukan oleh ayakan yang
dipasang pada bagian dalam mesin pembubuk. Makin halus ukuran ayakan didalam
silinder pembubuk ukuran partikel kopi bubuk semakin halus.
3.2. Kopi Jahe Instan
Produk kopi jahe instan ini merupakan kombinasi
kopi dengan jahe yang mana dibuat instan sehingga tidak ada residu/ampas yang
ditinggalkan ketika diseduh. Kopi jahe ini sangat cocok diminum pada saat
suasana udara yang dingin selain menyegarkan badan kopi ini juga dapat
menghangatkan badan.
Menurut Koswara (2009) Sifat khas jahe
disebabkan adanya minyak atsiri dan oleoresin jahe. Aroma harum jahe disebabkan
oleh minyak atsiri, sedangkan oleoresinnya menyebabkan rasa pedas. Minyak
atsiri dapat diperoleh atau diisolasi dengan destilasi uap dari rhizoma jahe
kering. Ekstrak minyak jahe berbentuk cairan kental berwarna kehijauan sampai
kuning, berbau harum tetapi tidak memiliki komponen pembentuk rasa pedas.
Kandungan minyak atsiri dalam jahe kering sekitar 1 – 3 persen. Komponen utama
minyak atsiri jahe yang menyebabkan bau harum adalah zingiberen dan zingiberol.
Oleoresin jahe banyak mengandung komponen pembentuk rasa pedas yang tidak
menguap. Komponen dalam oleoresin jahe terdiri atas gingerol dan zingiberen,
shagaol, minyak atsiri dan resin. Pemberi rasa pedas dalam jahe yang utama
adalah zingerol.
Penambahan jahe ini sangat bermanfaat dan sangat
diminati oleh konsumen. Selain dapat menghangatkan badan, jahe juga bermanfaat
untuk menbangkitkan nafsu makan. Menurut Koswara (2009) Jahe dapat merangsang
kelenjar pencernaan, baik untuk membangkitkan nafsu makan dan pencernaan. Hal
ini dimungkinkan karena terangsangnya selaput lendir perut besar dan usus oleh
minyak asiri yang dikeluarkan rimpang jahe. Minyak jahe berisi gingerol yang
berbau harum khas jahe, berkhasiat mencegah dan mengobati mual dan muntah
Proses pengolahan kopi jahe instan dimulai dari
kopi beras yang disangrai kemudian dilakukan penghalusan biji kopi sangrai
menjadi kopi bubuk. Proses selanjutnya adalah proses ekstraksi untuk
mendapatkan ekstrak kopi yang tanpa ampas, hasil ekstraksi kemudian dilakukan
pengkristalan dengan metode evaporasi yang dilengkapi dengan pengaduk. Kristal
yang didapat ukurannya belum seragam maka perlu dilakukan proses
penghalusan/conching agar mudah larut jika diseduh. Sedangkan proses pembuatan
jahe instan untuk campuran kopi jahe dibuat tersendiri yaitu jahe hasil panen
dibersihkan terlebih dahulu kemudian dilakukan pencacahan dan pengepresan
sehingga didapat ekstrak jahe. Selanjutnya hasil ekstrak jahe tersebut
dikristalisasi dengan metode evaporasi. Setelah didapatkan jahe instan dan kopi
instan kemudian dilakukan proses pencampuran antara kopi dan jahe.
3.3. Kopi Ginseng Instan + Creamer
Kopi ginseng instan merupakan campuran dari kopi
instan ditambah dengan ginseng instan. Selain itu juga ditambah bubuk creamer
sehingga akan membuat rasanya semakin enak. Produk ini sangat banyak disukai
oleh konsumen karena adanya tambahan ginseng karena fungsi gingseng yang dapat
meningkatkan stamina tubuh. Selain itu kopi ginseng ini sangat cocok dikonsumsi
untuk orang u yang aktifitasnya tinggi atau orang yang pekerja keras, yang mana
jika mengkonsumsi kopi ginseng akan meyegarkan badan.
Menurut Kiang (2009) menyatakan bahwa gingseng
memiliki beberapa khasiat diantaranyaMenguatkan tubuh dan menyimpan energi,
Menguatkan fungsi jantung dan menghilangkan stress, penawar racun dan
meningkatkan ketahanan melawan penyakit, menyempurkan diabetes dan menguatkan
fungsi limpa, mencegah masuk penyakit melalui organ pernafasan, merangsang
pembentukan darah dan memperbaiki sistem sirkulasi, menggiatkan sistem
pencernaan dan membantu menjalankan fungsinya dengan baik.
Menurut Daroesman (2009) Ginseng adalah terkenal
di kalangan masyarakat Cina dan Korea sebagai ubat sejak 5000 tahun yang lalu
.Ginseng dipercayai selama berabad–abad untuk menjaga kesehatan dan
menyembuhkan penyakit serta telah berbudaya dalam kehidupan masyarakat Cina dan
Korea sampai hari ini. Kandungan aktif ginsenoid pada ginseng memiliki manfaat
membantu proses penambahan tenaga dan vitalitas, peningkatan fungsi
seksualitas, pertumbuhan jaringan kulit dan sel, peningkatan daya tahan tubuh,
dan juga sebagai antioksidan.
Proses pengolahan kopi ginseng instan ini sama
dengan proses pengolahan kopi jahe instan yaitu:biji kopi beras kopi disangrai
kemudian dihaluskan. Kemudian dilakukan proses ekstraksi dari bubuk kopi untuk
mendapatkan ekstrak kopi. Ekstrak kopi ini dikristalkan, kemudian dihaluskan.
Pada pembuatan gingseng instan, pertama-tama ginseng dibersihkan setelah itu
dilakukan pencacahan, pengepresan dan penyaringan hingga diperoleh larutan
ginseng. Untuk selanjutnya larutan ini dikristalkan kemudian Kristal ginseng
ini dihaluskan. Bubuk kopi dan ginseng ini dilakukan pencampuran.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar